Sabtu, 11 Juni 2016

LAPORAN PENELITIAN EKOLOGI



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
 Tabel 1. Hasil pengamatan:
No.
Jenis makrofauna yang ditemukan
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5
Jumlah
1.
A
0
9
4
1
1
14
2.
B
1
0
12
0
3
13
3.
C
1
0
2
0
0
3
4.
D
0
0
1
1
1
2
5.
E
11
1
1
2
5
15
6.
F
0
0
2
0
1
2
7.
G
1
0
0
0
0
1
8.
H
1
0
0
1
1
2

Tabel.2 Gambar pengamatan:
No.
Perlakuan
Plot 1
Plot 2
Plot 3
Plot 4
Plot 5
1.
Sebelum didiamkan 24 jam







2.
Sesudah didiamkan 24 jam












4.2 Perhitungan
Tabel.3 Perhitungan:
No.
Jenis hewan
Jumlah Jenis
Pi
Log Pi
Pi.LogPi
Pi2
1
A
15
0,22
-0,65
-0,43
0,048
2
B
16
0,23
-0,63
-0,4
0,052
3
C
5
0,07
-1,15
-1,08
0,004
4
D
6
0,08
-1,09
-1,01
0,006
5
E
17
0,25
-0,60
-0,35
0,062
6
F
3
0,04
-1,39
-1,35
0,0016
7
G
1
0,01
-2
-1,9
0,0001
8
H
4
0,05
-1,30
-1,25
0,0025
Jumlah:
8
67


-7,77
0,176

4.2.1 Indeks Keanekaragaman:
H`= -  = -(-7.77)=7.77
Asusmsinya keanekaragaman tinggi karena H`>3
4.2.2 Indeks Keseragaman:
Hmaks= ln 67 = 4,204
E=H`/Hmaks= 7,77/4,204 = 1,8482 
Asumsinya keseragamannya tinggi karena  E > 0,6
4.2.3 Indeks Dominansi
C = S(Pi2)= 0,176
Asumsinya tidak ada spesies yang mendominasi C<1
4.3 Pembahasan
            Metode pengambilan sampel pada praktikum kali ini  dengan metode pit fall trap yakni metode pengumpulan hewan permukaan tanah dengan memasang perangkap jebak metode ini juga tergolong pada pengumpulan hewan tanah secara dinamik. Perangkap ini merupakan metode yang efektif untuk penelitian taksonomi maupun ekologi. Metode ini banyak digunakan untuk penelitian arthropodagua karena factor manusia sangat kecil pengaruhnya terutama untuk data ekologi. Untuk meletakkan tipot peneliti menggunakan kuadran tipe purposive pola “x” dengan jarak antar tipot 1 m, apabila menggunakan pola “x” peneliti membutuhkan 5 titik tempat(tipot). Dalam praktikum kali ini peneliti tidak menambahkan tutup di atas tipot dikarenakan iklim yang terjadi pada saat ini adalah kemarau jadi peneliti tidak khawatir akan terjadi hujan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, pada masing-masing tempat(tipot) yang ditanam dalam tanah dan diisi dengan air sabun sebanyak setengah gelas kemudian dibiarkan selama 24 jam terdapat makrofauna tanah yang terjebak didalamnya seperti semut, yuyu, laba-laba, belalang, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui jenis makrofauna tanah apa saja yang terperangkap di dalam masing-masing tipot dan jumlah individu keseluruhan yang terperangkap di dalamnya, peneliti dapat mengetahui indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi, indeks kerapatan, frekuensi, dan indeks nilai penting namun, pada laporan praktikum yang peneliti buat kali ini hanya memperhitungkan indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi.
1.      Indeks keanekaragaman
Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui pengaruh kualitas lingkungan terhadap komunitas makrofauna tanah. Keanekaragaman spesies menunjukkan jumlah total proporsi suatu spesies relatif terhadap jumlah total individu yang ada. Pengaruh kualitas lingkungan terhadap kelimpahan makrofauna tanah selalu berbeda-beda tergantung pada makro fauna, karena tiap jenis makrofauna memiliki adaptasi dan toleransi yang berbeda terhadap habitatnya. Indeks tersebut digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih rinci tentang komunitas makrofauna. Indeks keanekaragaman ditemukan oleh Shannon-Wiener.
Untuk mengetahui indeks keanekaragaman peneliti dapat menggunakan rumus:
H`= -
Pi =
Keterangan:
ni: jumlah individu dalam suatu spesies
N: jumlah individu dalam keseluruhan spesies yang ditemukan
            Asumsi:           H<1 berarti keanekaragaman rendah
                                    1<H<3 berarti keanekaragaman sedang
                                    H>3 berarti keanekaragaman tinggi
Pada praktikum kali ini didapatkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman H`=7,77, dengan asumsi keanekaragaman makrofauna dalam lingkungan tanah tempat peneliti melaksanakan praktikum memiliki keanekaragaman yang tinggi.
2.      Indeks keseragaman:
E=H`/Hmaks

Hmaks= ln S
Keterangan:
S          : jumlah jenis
H`        : indeks keanekaragaman

Asumsi:           E<0,4  berarti keseragaman rendah
                        0,4<E<0,6 berarti keseragaman sedang
                        E>0,6 berarti keseragaman tinggi
Pada praktikum kali ini didapatkan hasil perhitungan indeks keseragaman E=H`/Hmaks=1,8482, dengan asumsi keseragaman makrofauna dalam lingkungan tanah tempat peneliti praktikum memiliki keseragaman yang rendah.
3.      Indeks dominansi
  C= S(Pi2)
            Keterangan:
Pi:indeks keanekaragaman
Asumsi: apabila nilai C semakin mendekati 1 maka ada spesies yang   mendominasi
Pada praktikum kali ini didapatkan hasil perhitungan indeks dominansi C = S(Pi2)= 0,176, dengan asumsi dominansi makrofauna dalam lingkungan tanah tempat peneliti melaksanakan praktikum tidak ada spesies yang mendominansi.